Mbodakan Sebagai
Asal Usul Desa Tanjungarum
Desa Tanjungarum terletak
5 KM dari ibukota Kecamatan Sukorejo atau Desa paling ujung barat utara dari Kecamatan
Sukorejo, 18 KM dari ibukota Kabupaten Pasuruan dan 46 KM dari ibukota Propinsi
Jawa Timur (Surabaya). Secara geografis Desa Tanjungarum sebenarnya lebih dekat
dengan Kecamatan Pandaan. Desa Tanjungarum sebenarnya mempunyai sejarah panjang
yang terdiri atas beberapa bagian dari empat dusun yang ada didesa tanjungarum.
Namun tidak banyak yang mengerti dan mengetahui secara pasti dan lengkap
bagaimana sebenarnya sejarah berdirinya Desa Tanjungarum serta beberapa Dusun.
Menurut beberapa
cerita yang masih diingat oleh para sesepuh dan pinisepuh yang ada di desa Tanjungarum,
dulu ada seorang laki-laki yang dating dari daerah Tebu Ireng Kabupaten Jombang
dan membuka serta menetap didaerah sebelah utara dari Desa Tanjungarum tepatnya
disebelah timur sungai yang membelah Desa Tanjungarum menjadi dua, sebelah
barat sungai dan sebelah timur sungai, karena daerah tersebut banyak sekali
ditumbuhi pohon bunga Tanjung yang bauhnya wangi, maka daerah tersebut kemudian
dinamakan Tanjungarum. Tanjungarum sendiri berasal dari kata Tanjung yang
artinya sejenis bunga yang banyak tumbuh di daerah setempat, sedangkan Arum
persamaan dari kata wangi, jadi Tanjungarum adalah bunga yang baunya semerbak
mewangi.
Dalam perjalanannya seorang laki-laki ini
tidak banyak yang tahu sebenarnya siapa nama aslinya, tetapi masyarakat sekitar
akhirnya memberikan nama dengan nama Mbah bu Ireng, karena beliau berasal dari
Tebu Ireng dan kemudian beliau dimakankan dedaerah tersebut tepatnya di Dusun Ngemplak
Desa Tanjungarum. Namun jauh sebelum kedatangan Mbah Bu Ireng tersebut konon
ada seorang bangsawan dari bangil yang dulunya merupakan pusat pemerintahan
Kabupaten Pasuruan yang bernama Raden Sanjoyo (masih di perlukan penelitian
yang lebih lengkap dan konferenhensif tentang sejarah beliau). Yang bermaksud
(dalam bahasa jawa “maku”) gunung yang ada disebelah selatan Desa Tanjungarum,
sekarang bernama gunung Ringgit sebelah utara gunung Arjuno. Dalam perjalanan
menuju gunung Ringgit tersebut Raden Sanjoyo didaerah Tanjungarum. Dari
beberapa cerita yang ada, secara wilayah kekuasaan Desa Tanjungarum dulu dikuasai
oleh beberapa orang (bukan menjadi satu Desa), tetapi setiap Dusun (dari 4
Dusun yang ada Ngemplak, Tambakrejo, Panjangrum, dan Tanjungsari) ada yang menjadi
pemimpin. Dari empat Dusun yang ada, hanya Dusun Tanjungsari yang mengalami
perubahan dalam penyebutannya, menurut cerita yang ada, dulu sering terjadi
pencurian dan perampokan di Dusun tersebut, hal ini merisaukan masyarakat Dusun
Tanjungsari, maka atas inisiatif beberapa tokoh masyarakat diadakan jam malam,
yang bertujuan menjaga dan menangkap pencuri yang memasuki dusun. Setiap ada
pencuri yang kepergok (bahasa jawanya) maka masyarakat mengejarnya
beramai-ramai, peristiwa inilah yang dalam bahasa jawa “godak” artinya mengejar
maka Dusun tanjungsari lebih dikenal dikemudian hari dengan Dusun Mbodakan,
tetapi dalam urusan pemerintahan masih tetap menggunakan nama Tanjungarum.
Mata pencaharian masyarakat Tanjungarum:
NO.
|
MATA PENCAHARIAN
|
JUMLAH
|
1.
|
PETANI
|
1552 Orang
|
2.
|
Buruh Petani
|
255 Orang
|
3.
|
Buruh Swasta
|
342 Orang
|
4.
|
Pegawai Negeri Sipil
|
31 Orang
|
5.
|
Guru Swasta
|
68 Orang
|
6.
|
Pedagang
|
290 Orang
|
7.
|
Tukang Kayu/batu
|
85 Orang
|
8.
|
Peternak
|
-
Orang
|
9.
|
Montir
|
15 Orang
|
10.
|
Tenaga Medis
|
2 Orang
|
11.
|
Biro Jasa Angkut
|
-
Orang
|
12.
|
Pensiunan
|
20 Orang
|
13.
|
ABRI
|
5 Orang
|
14.
|
Pengrajin/ industry
|
20 Orang
|
15.
|
Penjahit
|
10 Orang
|
16.
|
Sopir
|
14 Orang
|
Staf kepala desa
dan Tim Jurnalis
Kel jurnalistik :
Datul Ilmiah, Yovinus Dwi W, Amir Mahmud, Evi Fauziyah, Siti
Nur Rohmatus Shiyam.


