1. Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari
kesombongan. (HR. Muslim)
2. Barangsiapa memanjangkan pakaiannya
(sehingga menyeret di tanah) karena kesombongannya maka Allah tidak akan
memandangnya kelak pada hari kiamat. (HR. Bukhari dan Muslim)
3.
Keagungan adalah sarungKu dan kesombongan adalah pakaianKu. Barangsiapa
merebutnya (dari Aku) maka Aku menyiksanya. (HR. Muslim)
4. Selagi orang
berjalan dan merasa bangga dengan tutup kepala dan kedua baju rangkapnya maka
tiba-tiba dia dibenamkan ke dalam tanah lalu dia bergelimang di dalam tanah
sampai hari kiamat. (HR. Muslim)
5. Ada tiga perkara yang membinasakan
yaitu hawa nafsu yang dituruti, kekikiran yang dipatuhi, dan seorang yang
membanggakan dirinya sendiri. (HR. Ath-Thabrani dan Anas)
6. Barangsiapa
membanggakan dirinya sendiri dan berjalan dengan angkuh maka dia akan menghadap
Allah dan Allah murka kepadanya. (HR. Ahmad)
Sabtu, 01 Maret 2014
Muhammad Rasulullah Saw
1. Rasulullah Saw
bersabda: "Aku kesayangan Allah (dan tidak congkak). Aku membawa panji "PUJIAN"
pada hari kiamat, di bawahnya Adam dan yang sesudahnya (dan tidak congkak). Aku
yang pertama pemberi syafa'at dan yang diterima syafaatnya pada hari kiamat (dan
tidak congkak). Aku yang pertama menggerakkan pintu surga dan Allah membukanya
untukku dan aku dimasukkanNya bersama-sama orang-orang beriman yang fakir (dan
tidak congkak). Dan Aku lah paling mulia dari kalangan terdahulu dan terbelakang
di sisi Allah (dan tidak congkak)." (HR. Tirmidzi)
2. Ketika Aisyah Ra
ditanya tentang akhlak Rasulullah Saw, maka dia menjawab, "Akhlaknya adalah Al
Qur'an." (HR. Abu Dawud dan Muslim)
3. Aku penutup para nabi. Tidak ada nabi lagi sesudah aku. (HR. Ahmad dan Al Hakim)
4. Aku diberi (oleh Allah) hikmah-hikmah yang banyak dalam ucapan-ucapan yang sedikit. (Maksudnya, ucapan-ucapan beliau singkat tetapi mengandung makna yang luas dan dalam). (HR. Ahmad)
5. Kepada Rasulullah Saw disarankan agar mengutuk orang-orang musyrik. Tetapi beliau menjawab: "Aku tidak diutus untuk (melontarkan) kutukan, tetapi sesungguhnya aku diutus sebagai (pembawa) rahmat." (HR. Bukhari dan Muslim)
6. Anas Ra, pembantu rumah tangga Nabi Saw berkata, "Aku membantu rumah tangga Nabi Saw sepuluh tahun lamanya, dan belum pernah beliau mengeluh "Ah" terhadapku dan belum pernah beliau menegur, "kenapa kamu lakukan ini atau kenapa tidak kau lakukan ini." (HR. Ahmad)
7. Rasulullah Saw
melakukan shalat malam sehingga kedua kakinya bengkak. Beliau juga tidak senang
bila ada orang berjalan di belakangnya. (Artinya, tidak sejajar dan berjalan di
belakangnya dengan maksud untuk menghormati beliau.) (HR. Bukhari dan
Muslim)
8. Anas Ra berkata, "Rasulullah Saw adalah orang yang paling baik, paling dermawan (murah tangan), dan paling berani". (HR. Ahmad)
9. Tiada seorang beriman hingga aku lebih dicintai dari ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia. (HR. Bukhari)
10. Aku Muhammad dan Ahmad (terpuji), yang dihormati, yang menghimpun manusia, nabi (penyeru) taubat, dan nabi (penyebar) rahmat. (HR. Muslim)
Lapal-Lapal Kesopanan Dan Lainnya
1. Larangan
mencaci-maki masa (waktu)
-
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman: Seorang anak Adam mencaci-maki masa padahal Akulah masa, siang dan malam hari ada di tangan-Ku. (Shahih Muslim No.4165)
2. Hukum
menggunakan lafal "budak lelaki", "budak perempuan", "baginda" dan
"tuan"
-
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian mengatakan: Budak lelakiku (abdi), budak perempuanku! Karena setiap lelaki kamu adalah hamba Allah dan setiap perempuanmu adalah hamba Allah. Tetapi hendaklah ia mengatakan: Hai gulami (anak lelaki kecil), hai jariati (anak perempuan kecil), hai pemuda dan pemudiku. (Shahih Muslim No.4177)
3. Makruh
berucap: "Sial aku"
-
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian mengatakan: Sial sekali aku! Akan tetapi sebaiknya dia mengatakan: Diriku tidak mampu lagi menanggung derita ini. (Shahih Muslim No.4180) -
Hadis riwayat Sahal bin Hunaif ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Janganlah salah seorang di antara kalian mengatakan: Sial sekali aku! Akan tetapi sebaiknya dia mengatakan: Diriku tidak mampu lagi menanggung derita ini. (Shahih Muslim No.4181)
Kamis, 27 Februari 2014
Keutamaan Ikhlas
1. Barangsiapa
memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci
karena Allah, dan menikah karena Allah, maka sempurnalah imannya. (HR. Abu
Dawud)
2. Sesungguhnya
Allah Ta'ala tidak memandang postur tubuhmu dan tidak pula pada kedudukan maupun
harta kekayaanmu, tetapi Allah memandang pada hatimu. Barangsiapa memiliki hati
yang shaleh maka Allah menyukainya. Bani Adam yang paling dicintai Allah ialah
yang paling bertakwa. (HR. Ath-Thabrani dan Muslim)
3. Barangsiapa
memurkakan (membuat marah) Allah untuk meraih keridhaan manusia maka Allah murka
kepadanya dan menjadikan orang yang semula meridhoinya menjadi murka kepadanya.
Namun barangsiapa meridhokan Allah (meskipun) dalam kemurkaan manusia maka Allah
akan meridhoinya dan meridhokan kepadanya orang yang pernah memurkainya,
sehingga Allah memperindahnya, memperindah ucapannya dan perbuatannya dalam
pandanganNya. (HR. Ath-Thabrani)
4. Barangsiapa
memperbaiki hubungannya dengan Allah maka Allah akan menyempurnakan hubungannya
dengan manusia. Barangsiapa memperbaiki apa yang dirahasiakannya maka Allah akan
memperbaiki apa yang dilahirkannya (terang-terangan). (HR. Al Hakim)
5. Seorang sahabat
berkata kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, seseorang melakukan amal (kebaikan)
dengan dirahasiakan dan bila diketahui orang dia juga menyukainya (merasa
senang)." Rasulullah Saw berkata, "Baginya dua pahala yaitu pahala
dirahasiakannya dan pahala terang-terangan." (HR. Tirmidzi)
6. Agama ialah
keikhlasan (kesetiaan atau loyalitas). Kami lalu bertanya, "Loyalitas kepada
siapa, ya Rasulullah?" Rasulullah Saw menjawab, "Kepada Allah, kepada kitabNya
(Al Qur'an), kepada rasulNya, kepada penguasa muslimin dan kepada rakyat awam."
(HR. Muslim)
Penjelasan:
Artinya, patuh dan taat kepada penguasa dan pemerintahan (muslim) dan setia kepada rakyat dengan tidak merugikan mereka atau mengambil (mengurangi) hak mereka.
Artinya, patuh dan taat kepada penguasa dan pemerintahan (muslim) dan setia kepada rakyat dengan tidak merugikan mereka atau mengambil (mengurangi) hak mereka.
Kepemimpinan, Keadilan dan Politik
1. Pemimpin suatu
kaum adalah pengabdi (pelayan) mereka. (HR. Abu Na'im)
2. Tidak akan
sukses suatu kaum yang mengangkat seorang wanita sebagai pemimpin. (HR.
Bukhari)
3. Barangsiapa
menghina penguasa Allah di muka bumi maka Allah akan menghinanya. (HR.
Tirmidzi)
4. Rasulullah Saw
berkata kepada Abdurrahman bin Samurah, "Wahai Abdurrahman bin Samurah,
janganlah engkau menuntut suatu jabatan. Sesungguhnya jika diberi karena
ambisimu maka kamu akan menanggung seluruh bebannya. Tetapi jika ditugaskan
tanpa ambisimu maka kamu akan ditolong mengatasinya." (HR. Bukhari dan
Muslim)
5. Apabila Allah
menghendaki kebaikan bagi suatu kaum maka dijadikan pemimpin-pemimpin mereka
orang-orang yang bijaksana dan dijadikan ulama-ulama mereka menangani hukum dan
peradilan. Juga Allah jadikan harta-benda di tangan orang-orang yang dermawan.
Namun, jika Allah menghendaki keburukan bagi suatu kaum maka Dia menjadikan
pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang berakhlak rendah. DijadikanNya
orang-orang dungu yang menangani hukum dan peradilan, dan harta berada di tangan
orang-orang kikir. (HR. Ad-Dailami)
6. Kami tidak mengangkat orang yang berambisi berkedudukan. (HR. Muslim)
7. Ada tiga perkara
yang tergolong musibah yang membinasakan, yaitu (i) Seorang penguasa bila kamu
berbuat baik kepadanya, dia tidak mensyukurimu, dan bila kamu berbuat kesalahan
dia tidak mengampuni; (2) Tetangga, bila melihat kebaikanmu dia pendam
(dirahasiakan / diam saja) tapi bila melihat keburukanmu dia sebarluaskan; (3)
Isteri bila berkumpul dia mengganggumu (diantaranya dengan ucapan dan perbuatan
yang menyakiti) dan bila kamu pergi (tidak di tempat) dia akan mengkhianatimu.
(HR. Ath-Thabrani)
8. Allah melaknat penyuap, penerima suap dan yang memberi peluang bagi mereka. (HR. Ahmad)
9. Akan datang
sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas mimbar mereka memberi
petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila telah turun mimbar mereka
melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai. (HR.
Ath-Thabrani)
l0. Jabatan (kedudukan) pada permulaannya penyesalan, pada pertengahannya kesengsaraan (kekesalan hati) dan pada akhirnya azab pada hari kiamat. (HR. Ath-Thabrani)
Keterangan:
Hal tersebut karena
dia menyalah gunakan jabatannya dengan berbuat yang zhalim dan menipu (korupsi
dll).
11. Aku mendengar
Rasulullah Saw memprihatinkan umatnya dalam enam perkara: (1) diangkatnya
anak-anak sebagai pemimpin (penguasa); (2) terlampau banyak petugas keamanan;
(3) main suap dalam urusan hukum; (4) pemutusan silaturahmi dan meremehkan
pembunuhan; (5) generasi baru yang menjadikan Al Qur'an sebagai nyanyian; (6)
Mereka mendahulukan atau mengutamakan seorang yang bukan paling mengerti fiqih
dan bukan pula yang paling besar berjasa tapi hanya orang yang berseni sastra
lah. (HR. Ahmad)
12. Barangsiapa diserahi kekuasaan urusan manusia lalu menghindar (mengelak) melayani kaum lemah dan orang yang membutuhkannya maka Allah tidak akan mengindahkannya pada hari kiamat. (HR. Ahmad)
13. Khianat paling besar adalah bila seorang penguasa memperdagangkan rakyatnya. (HR. Ath-Thabrani)
14. Menyuap dalam
urusan hukum adalah kufur. (HR. Ath-Thabrani dan Ar-Rabii')
15. Barangsiapa
tidak menyukai sesuatu dari tindakan penguasa maka hendaklah bersabar.
Sesungguhnya orang yang meninggalkan (membelot) jamaah walaupun hanya sejengkal
maka wafatnya tergolong jahiliyah. (HR. Bukhari dan Muslim)
16. Jangan
bersilang sengketa. Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu bersilang sengketa
(cekcok, bermusuh-musuhan) lalu mereka binasa. (HR. Ahmad)
17. Ka'ab bin
'Iyadh Ra bertanya, "Ya Rasulullah, apabila seorang mencintai kaumnya, apakah
itu tergolong fanatisme?" Nabi Saw menjawab, "Tidak, fanatisme (Ashabiyah) ialah
bila seorang mendukung (membantu) kaumnya atas suatu kezaliman." (HR.
Ahmad)
18. Kaum muslimin
kompak bersatu menghadapi yang lain. (HR. Asysyihaab)
19. Kekuatan Allah
beserta jama'ah (seluruh umat). Barangsiapa membelot maka dia membelot ke
neraka. (HR. Tirmidzi)
20. Semua kamu
adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam (amir)
pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami pemimpin dalam
keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang isteri pemimpin
dan bertanggung jawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pelayan (karyawan)
bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak bertanggung jawab atas
penggunaan harta ayahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)
21. Barangsiapa membaiat seorang imam (pemimpin) dan telah memberinya buah hatinya dan jabatan tangannya maka hendaklah dia taat sepenuhnya sedapat mungkin. (HR. Muslim)
22. Akan terlepas
(kelak) ikatan (kekuatan) Islam, ikatan demi ikatan. Setiap kali terlepas satu
ikatan maka orang-orang akan berpegangan kepada yang lainnya. Yang pertama kali
terlepas ialah hukum dan yang terakhir adalah shalat. (HR. Ahmad dan Al
Hakim)
23. Hendaklah kamu
mendengar, patuh dan taat (kepada pemimpinmu), dalam masa kesenangan (kemudahan
dan kelapangan), dalam kesulitan dan kesempitan, dalam kegiatanmu dan di saat
mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan sekalipun keadaan itu merugikan
kepentinganmu. (HR. Muslim dan An-Nasaa'i)
24. Sesungguhnya umatku tidak akan bersatu dalam kesesatan. Karena itu jika terjadi perselisihan maka ikutilah suara terbanyak. (HR. Anas bin Malik)
25. Dua orang lebih baik dari seorang dan tiga orang lebih baik dari dua orang, dan empat orang lebih baik dari tiga orang. Tetaplah kamu dalam jamaah. Sesungguhnya Allah Azza wajalla tidak akan mempersatukan umatku kecuali dalam petunjuk (hidayah) (HR. Abu Dawud)
Kenikmatan
1. Ada dua
kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya yakni nikmat sehat dan waktu
senggang (Artinya, saat-saat sehat dan waktu senggang / luang orang sering
menggunakannya untuk melakukan perbuatan yang sia-sia dan terlarang). (HR.
Bukhari)
2. Membesarnya
kenikmatan Allah bagi seseorang adalah bertambah banyaknya kebutuhan orang
kepadanya (banyak dibutuhkan orang). Tetapi barangsiapa enggan memenuhi
kebutuhan-kebutuhan orang-orang itu maka dia telah membiarkan kenikmatan itu
lenyap. (HR. Al-Baihaqi)
3. Mohonlah kepada
Allah kesehatan (keselamatan). Sesungguhnya karunia yang lebih baik sesudah
keimanan adalah kesehatan (keselamatan). (HR. Ibnu Majah)
4. Apabila Allah
memberikan kenikmatan kepada hambaNya maka Allah suka agar kenikmatanNya itu
tampak pada diri (hamba) Nya. (HR. Ath-Thabrani)
5. Yang pertama
kali ditanyakan kepada seorang hamba dari kenikmatan-kenikmatan Allah kelak pada
hari kiamat ialah ucapan, "Bukankah telah Kami berikan kesehatan pada tubuhmu
dan Kami berikan air minum yang sejuk?" (HR. Tirmidzi)
Meninggalkan yang tidak bermanfaat
Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, dia berkata:
“Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sebagian tanda
dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak
berguna baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan Tirmidzi dan
lainnya)
Kedudukan Hadits
Hadits ini merupakan landasan dalam bab adab.
Hadits ini merupakan landasan dalam bab adab.
Kebagusan Islam
Seseorang
Kebagusan Islam seseorang bertingkat-tingkat. Cukuplah seseorang berpredikat bagus Islamnya jika telah melaksanakan yang wajib dan meninggalkan yang haram. Dan puncak kebagusannya jika sampai derajat ihsan, yang tersebut dalam hadits ke-dua. Besarnya pahala dan tingginya kemuliaan seseorang sesuai dengan kadar kebagusan Islamnya.
Kebagusan Islam seseorang bertingkat-tingkat. Cukuplah seseorang berpredikat bagus Islamnya jika telah melaksanakan yang wajib dan meninggalkan yang haram. Dan puncak kebagusannya jika sampai derajat ihsan, yang tersebut dalam hadits ke-dua. Besarnya pahala dan tingginya kemuliaan seseorang sesuai dengan kadar kebagusan Islamnya.
Meninggalkan
Sesuatu Yang Tidak Penting
Sesuatu yang penting adalah sesuatu yang bermanfaat di dunia maupun di akhirat. Standar manfaat diukur oleh syariat, karena sudah maklum bahwa yang diperintahkan oleh syariat pasti membawa manfaat dan yang dilarang pasti menimbulkan mudhorot oleh karena itu upaya untuk paham syariat adalah aktivitas yang sangat bermanfaat. Menjadi kewajiban seseorang demi kebagusan Islamnya untuk meninggalkan semua yang tidak penting karena semua aktivitas hamba akan dicatat dan celakalah seseorang yang memenuhi catatannya dengan sesuatu yang tidak penting, termasuk di dalamnya adalah semua bentuk kemaksiatan.
Sesuatu yang penting adalah sesuatu yang bermanfaat di dunia maupun di akhirat. Standar manfaat diukur oleh syariat, karena sudah maklum bahwa yang diperintahkan oleh syariat pasti membawa manfaat dan yang dilarang pasti menimbulkan mudhorot oleh karena itu upaya untuk paham syariat adalah aktivitas yang sangat bermanfaat. Menjadi kewajiban seseorang demi kebagusan Islamnya untuk meninggalkan semua yang tidak penting karena semua aktivitas hamba akan dicatat dan celakalah seseorang yang memenuhi catatannya dengan sesuatu yang tidak penting, termasuk di dalamnya adalah semua bentuk kemaksiatan.
Langganan:
Postingan (Atom)