Senin, 03 Maret 2014

Dahulukan Allaah Subhanahu wa Ta'alaa


Suatu ketika di saat ada seorang ibu yang menemukan putranya sakit, ia bergegas mengangkat telephon dan menelepon sebuah balai pengobatan untuk mendaftarkan anaknya agar mendapatkan antrian terdepan. Begitu juga seorang pedagang yang dengan kecerdasannya membidik tempat-tempat strategis dan saat yang tepat untuk berdagang. Atau seorang ustadz yang begitu disiplin membuat program da'wah dengan membuat beberapa sarana media da'wah. Dari semua yang dilakukan oleh seorang ibu, pedagang dan ustadz adalah suatu hal yang amat dibenarkan dalam sebuah usaha. Akan tetapi disaat kita hadapkan kepada nilai keimanan dan kerinduan kepada Allah SWT, usaha-usaha itu akan menjadi tidak ada maknanya jika tidak dibarengi dengan sebuah kesadaran akan kelemahannya dalam mencapai sebuah keberhasilan. Dan dengan penuh kerendahan hati memohon kepada Allah SWT agar memberikan kesembuhan kepada sang putra, memajukan usahanya, memberikan ilmu manfaat kepada para santri dan umat.
Akan tetapi alangkah seringnya kita tertipu oleh akal kita sehingga sering kali kita melupakan Allah SWT dalam segala usaha. Siapa di antara kita yang di saat hendak membuka toko lalu mendahulukan wudhu, kemudian shalat dua raka'at dan memohon agar dimudahkan usahanya oleh Allah SWT? Siapa diantara kita yang di saat mengajak orang kepada kebaikan, mendahulukan shalat dua raka'at atau bangun di tengah malam, memohon kepada Allah SWT demi kebaikan orang yang diajak?

Sungguh  seorang ustadz disaat giat mengajar atau memberi pengajian, ketulusanya amat diragukan jika ia tidak pernah memohon kepada Allah SWT untuk umat dan santri. Sungguh dikhwatirkan kekeroposan iman seorang ibu jika ternyata yang di matanya hanya usaha dhahir sementara Allah SWT tidak pernah hadir di hatinya. Sungguh seorang pedagang amat dikhwatirkan akan maksud yang tersembunyi dibalik usahanya jika dalam usahanya tidak pernah hadir kerinduan kepada bantuan Allah SWT.
Yang menyeru kepada Allah SWT tanpa sebuah ketulusan akan menghadirkan kemunafikan. Yang mencari kekayaan tanpa maksud yang baik akan mengantarkan kepada kesombongan. Yang berobat dan mencari kesehatan tanpa dibarengi rasa ketergantungannya kepada Allah SWT akan mengikis ketawakalan dan kesabaran.
Wallahu a'lam bissawab.

Minggu, 02 Maret 2014

Indahnya Sebuah Seruan


Didalam menyeru kepada kebaikan tentu ada tata krama yang tidak pernah terlepas dari makna ilmu dan akhlak. ‘ Ilmu ’ saja tanpa akhlak tidak bisa membangun, dan ‘ Akhlak ’ tanpa ilmu adalah lemah, maka harus digabungkan antara ilmu dan akhlak. Dalam irama mengajak kepada kebaikan, tugas kita adalah menjauhkan siapapun dari murka Allah SWT. Seorang muslim harus semakin didekatkan kepada Allah SWT dan ditarik dengan penuh kerinduan agar ia bisa merindukan Allah SWT. Dan yang belum masuk Islam harus diajak dengan penuh kasih sayang agar kenal Allah SWT.
Ada beberapa hal yang harus dicermati disaat kita mengajak kepada kebaikan :
Pertama adalah Koreksi. Disaat kita melihat kesalahan yang kita duga ada pada orang lain, maka mula-mula yang harus kita lakukan adalah menemukan kesungguhan sebuah kesalahan, jangan sampai terlanjur kita mengangkat suara menyalahkan orang lain ternyata kesalahan justru ada pada diri kita. Kita harus mengoreksi diri terlebih dahulu dengan mendiskusikannya kepada pakarnya agar jangan salah dalam menyalahkan orang. Disini ada makna pengukuhan dan pendalaman ilmu. Jika kita menemukan kesalahan ada pada diri kita, maka segeralah kita menginsyafinya dan memohon maaf. Dan jika kesalahan ada pada orang lain maka saat itulah kita menuju langkah berikutnya dalam mengajak kepada kebaikan. Artinya, jika langkah yang pertama ini belum kita lakukan maka sungguh tidak pantas kalau kita menuju kepada langkah berikutnya.
Kedua, bila kita menemukan kesalahan ada pada orang lain. Kita harus bedakan apakah kesalahan tersebut dilakukan dengan  sengaja menentang Allah SWT atau karena ia belum tahu kalau dia salah ? Karena ini adalah dua model manusia yang  sangat berbeda ketika kita mengajaknya kepada kebenaran.
Jika ternyata ia tergolong yang melakukan kesalahan karena ia belum tahu, karenanya ia berbuat kesalahan maka cukuplah kita tunjukkan kebenaran kepadanya dengan keindahan dan jangan ditambah lagi dengan celaan dan cacian. Sebab saat kita menunjukkan kebenaran kepadanya sungguh itu sama artinya kita mengatakan kepadanya jika  ia salah. Setelah itu jangan sampai kita  memutuskan silaturahim baik disaat ia menerima atau tidak kebaikan yang kita sampaikan.
Ketiga adalah Kesabaran, Jangan mudah putus asa, karena dakwah adalah perjuangan indah yang tiada henti, sebagaimana Rosulullah Muhammad SAW membangun keindahan dengan keindahan hingga beliau menghadap Allah SWT
Wallahu  a'lam bissawab.

~Mutiara Hikmah Buya Yahya~

Sabtu, 01 Maret 2014

makalah b'inggris

PAPERS CIRCUMCISION

This Paper Was Prepared To Fulfill The Task Subjects
English Language Study Program










Lecturers:
Aminatuz Zuhriyah



In the Arrange By:
Datul Ilmiah
(201286010028)



ISLAM EDUCATION STUDY PROGRAM
FACULTY OF ISLAM
UNIVERSITY YUDHARTA PASURUAN
2013
FOREWORD

Praise be to God with all sincerity as he expects his help and Hidaya. In order for all the enjoyment that has been given, making us increasingly closer to Him, and classify us as people who are good at all grateful for His favors.
Prayers and peace may always be delegated to the true reformer, Prophet Muhammad. As well as the final of the apostles, the giver of promise and warning, with his presence, ie Allah. Save man from straying, which shows the straight man to the beaten path, namely Islam wal Addinul faith.
Alhamdulillah with Allah's approval, with passion and perseverance, finally Authors can complete tasks with the guidance Papers English lecturers Aminatuz Zuhriyah entitled "Circumcision" is smoothly.
The author realizes that this paper is still not entirely free of flaws, so if there is one word, one in the preparation, and lacking in material content writer apologize profusely.
Finally the author would like to thank the many tasks that have been given by Mrs. lecturers this English course, and hopefully this paper may help the seeker of knowledge to gain a wider knowledge, only the author of God and plead for help instructions.


Sengonagung,  January 03, 2013
compiler

TABLE OF CONTENTS

Foreword................................................................................................... i
Table Of Contents.................................................................................... ii
CHAPTER I PRELIMINARY.............................................................. 3
1.1    Background.......................................................................... 3
1.2    Problem Formulation............................................................ 3
1.3    Objectives............................................................................. 3
CHAPTER II DISCUSSION.................................................................. 4
A.      Understanding Circumcision................................................ 4
B.       Understanding Circumcision According to Ulema.............. 4
C.       Liability Circumcision........................................................... 5
D.      Circumcision Law................................................................. 5
E.       Faidah Circumcision In Sharia Review................................ 6
CHAPTER III CLOSING...................................................................... 7
References................................................................................... 8








CHAPTER I
PRELIMINARY

1.4    Background
Circumcision is the prophet Muhammad commands Muslims to be implemented worldwide. Obligations Muslim men to perform circumcision is an absolute must to be done. As for female circumcision, according to law kebanyak Sunnah scholars stated the law, but some are advocating to do. Generally, female circumcision performed during infancy or after 7 days he was born, it is meant to be cut so that the skin does not harden and is painless.
1.5    Problem Formulation
1.    What is the purpose of circumcision?
2.    What is the purpose understanding of circumcision according to scholars'?
3.    What obligations circumcised?
4.    How does the law of circumcision?
5.    What faidah circumcision in Shari'ah review?
1.6    Objectives
1.    To know the definition of circumcision
2.    To know the definition of circumcision according to scholars'
3.    To determine liability circumcision
4.    To find out the law of circumcision
5.    To find faidah circumcision in review Shari'ah


CHAPTER II
DISCUSSION

F.       Understanding Circumcision
According to the understanding of language, circumcision meant cut. While the term within the meaning of Islamic law, circumcision is in a particular cut of certain parts of the body.
Circumcision or circumcision is already very familiar and we usually hear. In some places, the circumcision ceremony the children even made ​​a celebration event, invitations, and lively entertainment. Circumcision, is a form of mashdar (basic words) of khatana, which means to cut. Al-Khitaan, Al-Ikhtitaan, is isim (noun) from ficil (verb) al-khaatin, or designation places circumcised, skin that is left after the cut. (Al-Isawi, 2008). According to the terms on male circumcision is cutting the skin that covers the tip of the male genitalia called Qulfah, so as not to accumulate dirt in it, and also in order to complete the urine, and does not diminish the joy jima 'husband and wife.
Specifically, some scholars circumcision divide into 2 types, namely i'dzaar and khafdh. And Imam Nawawi said that it i'dzaar circumcision in men, whereas only khafdh specifically on female circumcision. Similarly, Al-Jauhari said, that the word khafdh is devoted to female circumcision.

G.      Understanding Circumcision According to Ulema
Circumcision according to al-Mawardi was cutting the skin covering the tops dzakar men or also called hasyafah. Ideally the cut is to start from the base of the shoots dzakar and there are still at least a little residual cover.
According to Imam Haramain true circumcision for men is to cut the foreskin is the skin that covers the tops dzakar so there is no residual skin left at all.
According to Ibn Shabagh circumcision meant cut the top of the skin or the most important part dzakar dzakar shoots can open.

H.      Liability Circumcision
Sourced from Abu Hurairah RA true prophet Muhammad SAW said "Abraham the beloved of God merciful and compassionate circumcised after the age of eighty years. He was circumcised in qudum "(Narrated by Al-Bukhari and Muslim).
The scholars differed in establishing liability circumcision. However, the difference is only in women. While the male scholars such as al-Shafi `i, Imam Malik, Abu Hanifah and other scholars oblige men to circumcision.

I.         Circumcision Law
·      The Messenger of Allah said about the nature of the problem is in the form of circumcision:
الْفِطْرَةُ خَمْسٌ أَوْ خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَنَتْفُ الْإِبْطِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَقَصُّ الشَّارِب
Meaning: that nature are five: circumcision, shaving the hair kemalun, plucking the armpit hairs, cutting the nails, and trim the mustache. (Narrated by Bukhary and Muslim).
·      As a nature, circumcision is also performed by the former. From Abu Hurairah, the Prophet. said, "Abraham circumcised after reaching the age of eighty years, and he circumcised the ax. while the Prophet was ordered by Allah to follow the religion of Abraham, as contained in the word which means," Then We revealed to you (Muhammad): 'Follow the religion of Abraham the hanif. '"(Surat an-Nahl: 123).
·      According to some scholars, the law of circumcision is obligatory for men. Meanwhile, according to a well-known history of imam Malik, he said his legal sunna circumcision.
·      ibn Qudamah in his book Mughni, said that circumcision is obligatory for men and women glory. Although there are differences of opinion, because the legal minimum is sunnah, circumcision is a doctrine that Muslims should not be abandoned.
·      Prophet. ordered people to Islam according to his saying circumcision أَلْقِ عَنْكَ شَعْرَ الْكُفْرِ وَاخْتَتِنْ   Meaning: "Remove hair from you infidelity (which became infidels address) and berkhitanlah." (Narrated by Abu Dawood, and dihasankan by Sheikh Al-Albany).

J.        Faidah Circumcision In Sharia Review
According to Abdullah Shaikh Nasih Ulwaan in deed Book of Tarbiyatul Aulaad Islam, circumcision has utility as follows:
ü circumcision is the largest nature, symbols and characteristics of Islamic law.
ü Circumcision is a sign of God's perfection and righteous Shari'ah delivered via oral Prophet Ibrahim AS.
ü Circumcision is the difference between a Muslim with other religions.
ü Circumcision is one proof of the recognition of a person as a servant of God, carrying out His orders, and subject to his rule and authority.
CHAPTER III
CLOSING
A.      Conclusion
It can be concluded that for all Muslims that men are required to perform circumcision, circumcision provision for this time I know and according to some scholars is when aged 7 to 10 years or more, such provision is essentially to avoid side effects and pain if circumcision is performed on the calculated ages are still young. whereas for women there is a law stating circumcision obligatory but sunna majority opinion is recommended. implementation as a baby or after 7-15 days after birth.


















REFERENCES

ü  Hasan, M. Ali.2003. Fiqhiyah Masail al-Haditsah. London: King Grafindo Persada.
ü  Louis Ma'luf, Al Munjid Fi al-lughah A'lamu Wa, (Baerut: Darul Masyriq, 1986).
ü  Dahlan Abdul Aziz et al, Supplements Encyclopedia of Islam, Volume I (New York: New Ichtiar Van Hoeve, 1996).